
Empat Gol Marseille Bungkam Ajax di Liga Champions – Liga Champions musim 2025/26 kembali menghadirkan kejutan besar ketika Olympique Marseille sukses membungkam Ajax Amsterdam dengan skor telak 4-0. Pertandingan yang berlangsung di Stade Vélodrome ini menjadi salah satu laga paling menarik di awal kompetisi, sekaligus menunjukkan bagaimana Marseille siap tampil percaya diri di pentas Eropa.
Sejak peluit babak pertama dibunyikan, Marseille tampil penuh determinasi. Dukungan ribuan suporter yang memadati stadion menambah semangat para pemain tuan rumah. Pressing tinggi langsung diterapkan oleh pasukan Gennaro Gattuso, membuat Ajax kesulitan mengembangkan permainan khas mereka yang mengandalkan penguasaan bola dan operan cepat.
Bintang muda Marseille, Luis Henrique Paixao, menjadi sosok paling menonjol dalam pertandingan ini. Dengan kecepatan, visi bermain, serta ketenangan dalam mengeksekusi peluang, ia berhasil mencetak dua gol sekaligus memberikan kontribusi besar bagi kemenangan timnya. Gol-gol Marseille lainnya datang dari lini tengah, menunjukkan betapa seimbangnya kualitas skuad mereka musim ini.
Ajax, yang datang dengan reputasi besar sebagai salah satu tim dengan sejarah panjang di Eropa, tampak kewalahan menghadapi intensitas permainan Marseille. Upaya mereka membangun serangan kerap terhenti di lini tengah karena rapatnya pressing lawan. Bahkan, lini pertahanan Ajax yang biasanya cukup solid, justru tampak mudah ditembus kali ini.
Dengan hasil ini, Marseille tak hanya mengamankan tiga poin penting, tetapi juga mengirim pesan kepada para pesaing bahwa mereka adalah salah satu tim yang patut diperhitungkan di Liga Champions musim ini.
Kelemahan Ajax dan Analisis Taktik Pertandingan
Ajax Amsterdam datang ke Prancis dengan keyakinan tinggi, tetapi performa mereka jauh dari ekspektasi. Tim asuhan John van ’t Schip seakan kehilangan identitas permainan yang selama ini menjadi ciri khas klub Belanda tersebut.
Secara statistik, Ajax memang menguasai bola lebih banyak dibandingkan Marseille. Namun, penguasaan bola tersebut tidak berbuah peluang berbahaya. Lini serang mereka sering kali buntu ketika berhadapan dengan blok pertahanan Marseille yang sangat disiplin. Gelandang-gelandang Ajax seperti Taylor dan Bergwijn kesulitan menemukan ruang untuk menusuk, sementara striker mereka jarang mendapat suplai bola matang.
Di sisi lain, Marseille justru bermain efisien. Mereka tidak terlalu banyak menguasai bola, tetapi setiap serangan selalu menghasilkan ancaman serius. Skema serangan balik cepat terbukti efektif, dengan memanfaatkan kecepatan pemain sayap yang membuat bek-bek Ajax kewalahan.
Gol pertama Marseille lahir dari sebuah serangan balik tajam. Paixao berhasil lolos dari jebakan offside dan menaklukkan kiper Ajax dengan finishing dingin. Setelah gol pembuka itu, Ajax mulai kehilangan fokus. Bek mereka sering melakukan kesalahan elementer, salah satunya yang berujung pada gol kedua Marseille lewat sepakan keras dari luar kotak penalti.
Babak kedua menjadi mimpi buruk bagi Ajax. Upaya mereka meningkatkan intensitas justru membuka ruang lebih lebar di lini belakang. Marseille memanfaatkan kelemahan tersebut dengan mencetak dua gol tambahan. Gol ketiga kembali dicetak Paixao, sementara gol penutup datang dari sundulan striker senior mereka setelah menerima umpan silang matang.
Dari sisi taktik, Marseille menunjukkan kedewasaan bermain. Mereka tidak terjebak dengan keinginan mendominasi bola, melainkan bermain sesuai kebutuhan pertandingan. Kerapatan lini belakang, transisi cepat ke depan, dan efektivitas penyelesaian akhir menjadi kunci utama kemenangan ini.
Sementara itu, Ajax harus segera berbenah jika tidak ingin tersingkir lebih awal. Pertahanan yang mudah ditembus, minimnya variasi serangan, serta lemahnya koordinasi antar lini menjadi pekerjaan rumah besar bagi tim asal Belanda tersebut.
Kesimpulan
Kemenangan 4-0 Marseille atas Ajax Amsterdam bukan hanya tiga poin penting di awal Liga Champions, tetapi juga sebuah pernyataan bahwa klub asal Prancis ini siap menantang tim-tim besar Eropa lainnya. Performa gemilang Luis Henrique Paixao menjadi sorotan, tetapi kemenangan ini sejatinya adalah hasil kerja kolektif seluruh tim.
Di sisi lain, kekalahan telak ini menjadi tamparan keras bagi Ajax. Klub yang dikenal sebagai penghasil pemain muda berbakat harus segera melakukan evaluasi mendalam. Tanpa perbaikan cepat, mereka berisiko mengalami perjalanan sulit di kompetisi ini.
Liga Champions musim ini masih panjang, namun hasil ini sudah memberikan gambaran bahwa kejutan bisa datang dari mana saja. Marseille yang sering dianggap sebagai kuda hitam, kini menjelma menjadi salah satu tim yang berpotensi melangkah jauh. Sementara Ajax, meski punya tradisi panjang di kancah Eropa, harus membuktikan bahwa mereka mampu bangkit dari keterpurukan.
Dengan dinamika seperti ini, Liga Champions musim 2025/26 semakin menarik untuk diikuti. Pertandingan antara Marseille dan Ajax akan dikenang sebagai salah satu momen awal yang menegaskan betapa sengitnya persaingan antar klub terbaik di Eropa.